Header Ads

Kehidupan Sosial Masyarakat Tumbak Madani

Tingginya keanekaragaman hayati di wilayah pesisir dan lautan Indonesia merupakan harta yang sangat berharga untuk menunjang kehidupan manusia. Kekayaan dan keindahan wilayah laut dan pesisir dapat dimanfaatkan sebagai sumberdaya yang amat penting untuk perikanan dan pariwisata. Berpuluh juta orang khususnya nelayan, menggantungkan hidupnya dari sumberdaya laut dan pesisir (Puspitaningasih, 2012). Potensi sumberdaya di Sulawesi Utara yang kaya potensi sumberdaya pesisir dan lautan dapat memberikan kesempatan untuk berkembang usaha perikanan maupun pariwisata didaerah ini. Keadaan laut di Desa Tumbak Madani juga berperan besar dalam sektor perikanan dan juga sektor pariwisata yang belum termanfaatkan secara maksimal. 

Ada beberapa jenis sumberdaya bernilai ekonomis penting yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat nelayan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil seperti kayu bakau, moluska, terumbu karang dan ikan. Peralatan penangkapan ikan yang digunakan oleh sebagian besar nelayan di Desa Tumbak Madani masih bersifat tradisional, seperti jaring dan alat penangkapan ikan lainnya, dilengkapi dengan sarana penangkapan seperti perahu/kapal motor. Desa Tumbak Madani memiliki pulau-pulau kecil yang dapat langsung terlihat dari desa, mempunyai karakteristik spesifik, terisolasi dan mempunyai lingkungan yang khusus dengan proporsi spesies ikan yang tinggi serta sosial budaya yang spesifik pula. 

Oleh karena itu diperlukan penelitian-penelitian yang dapat mengungkapkan potensi tersebut di Desa Tumbak Madani. Dari uraian di atas menunjukan bahwa penelitian terhadap potensi sumberdaya perikanan di Desa Tumbak Madani penting untuk dilaksanakan dalam rangka mengetahui dan mengembangkan potensi yang ada yang pada akhirnya untuk menaikkan taraf hidup nelayan. 

Sejarah Desa Tumbak Madani
Penduduk yang mula-mula mendiami Desa Tumbak berasal dari Tilamuta Gorontalo, yang terdiri dari suku Bugis, suku Bajo dan suku Gorontalo. Penduduk pada awalnya terdiri dari 11 rumah tangga yang di kepalai oleh Dotu Saban I Mau dan pembantunya A.S Bachdlar yang datang sekitar tahun 1881. Tujuan mereka datang ke desa ini adalah mencari hasil laut seperti kerang, teripang, ikan laut dan lain-lain. Konon diceritakan bahwa salah satu anggota rombongan, yaitu Dotu Saban I menderita sakit sehingga mereka yang seharusnya singgah dibeberapa tempat seperti daerah Bolaang Mongondow tidak terlaksana, kemudian mereka memutuskan untuk singgah disebelah timur Belang atas ijin Hukum Besar Ratahan untuk berobat. Dalam waktu yang tidak lama, Dotu Saban I sembuh dari sakitnya. Bertepatan pada waktu itu, di tempat yang sama sering terjadi pembunuhan dan perampokan oleh orang–orang Loloda. Akan tetapi kedatangan rombongan ternyata disegani, sehingga, tidak pernah lagi terjadi pembunuhan dan perampokan. Oleh sebab itu mereka tidak dibiarkan pergi untuk meneruskan perjalannya oleh pemerintah Ratahan, dan memperoleh wilayah tempat tinggal yang sekarang dikenal sebagai Desa Tumbak yang berdiri sekitar tahun 1918. 

Potensi Sumberdaya Manusia
Penduduk Desa Tumbak Madani berjumlah 149 KK, dengan jumlah jiwa sebesar 512 jiwa yang terdiri dari wanita 249 jiwa dan pria 263 jiwa.
Tabel 1. Tingkat pendidikan.


Tingkat Pendidikan 
Jumlah (Jiwa) 
Persentase (%)

1. Tidak sekolah : 403 
78,71%

2 .Tamat SD : 68 
13,28%

3. Tamat SMP: 25 
4,88%

Tamat SMU :15 
2,92%

Tamat PT: 1 
0,19%

Jumlah: 512 
100%



Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi masyarakat terutama bagi masyarakat nelayan. Melalui pendidikan masyarakat nelayan dapat berpikir maju dalam memperhatikan lingkungan hidup maupun lingkungan perairan di desa.




Tabel 2. Mata Pencaharian

No 


Jenis Mata Pencaharian 
Jumlah (orang) 
Persentase (%)

Nelayan 
130 
87,24%

Petani 
1,34%

PNS 
2,01%

Swasta 
51 
3,35%

Pengumpul ikan 
0,67%

Tukang 
2,68%

Sopir 
2,68%

Jumlah 
149 
100%

Penduduk Desa Tumbak Madani memiliki mata pencaharian yang beragam, masing-masing memiliki keahlian dan ketrampilan yang berbeda. Namun, sebagai masyarakat yang hidup dan bermukim didaerah pantai, maka pekerjaan sebagai nelayan mempunyai persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan mata pencaharian lain.

Potensi Budaya Penduduk
Desa Tumbak Madani tercatat 100% memeluk agama Islam. Budaya yang berlaku di masyarakat seperti masyarakat Tumbak Madani mempercayai katula yaitu kemalangan, keruntuhan atau yang disebabkan oleh kutuk karena perbuatan yang kurang baik terhadap orang tua atau karena perbuatan yang melanggar larangan. Seorang Bajo yang katula percaya bahwa bila hasil tangkapan ikannya tidak baik, kehidupan cintanya gagal, kehidupannya yang miskin, terjadi karena melakukan perbuatan yang dilarang dalam kehidupan masyarakat Bajo.



Adanya diferensiasi dan stratifikasi sosial penduduk di desa Tumbak Madani
Diferensiasin penduduk desa Tumbak Madani

Dengan daerah yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan maka tidak salah jika sebagian besar masyarakat desa Tumbak Madani bekerja sebagai nelayan. Banyak spekulasi bahwa nelayan itu berada dalam golongan masyarakat miskin dan rawan kesejangan sosial. Melihat spekulasi yang seperti ini pemerintah Indonesia juga tidak tinggal diam membiarkan spekulasi ini berkembang lebih luas, maka dari itu pemerintah mengadakan program Modernisasi Perikanan didesa Tumbak Madani. Modernisasi perikanan ini juga berdampak pada kehidupan sosial maupun komunitas desa ini. Dampak dari modernisasi ini adalah perubahan pola kerja dari penggunaan teknologi yang sederhana yang kemudian beralih pada teknologi yang lebih modern, efektif dan efisien. Efektif dan Efisien ini menimbulkan diferensiasi yakni memunculkan unit-unit sosial yang baru dala masyarakat Tumbak Madani yang berpengaruh pada kehidupan sosial masyarakat nelayan desa tersebut. Perubahan struktur sosial ini berpengaruh pada tingkat nelayan maupun komunitas, pada level nelayan ini terjadi bentuk stratifikasi sehingga juga berpengaruh pada komunitas yang juga terbagi menjadi stratifikasi-stratifikasi tertentu dalam truktur sosial. Pola efisiensi ini juga berpengaruh pada perolehan hasil tangkap nelayan yang berpengaruh pada pendapatan nelayan sehingga juga berpengaruh pada kesejahteraan nelayan. Tidak semua nelayan didesa ini mempunyai cukup biaya yang dapat mereka gunakan untuk mengembangkan program Modernisasi Perikanan yang dicanangkan pemerintah. Hanya sebagian kecil nelayan yang mempunyai modal lebih yang bisa mengembangkan program ini, yang tentunya berdampak pada pola kerja nelayan tersebut lebih efisien dan efektif. 

Sedangakan bagi nelayan yang permodalannya pas-pasan atau cenderung tidak memiliki modal maka mereka tetap menggunakan teknologi sederhana yang telah mereka gunakan turun-menurun sejak dulu. Dari penggunaan teknologi yang sudah bereda jauh ini, maka dapat disimpulkan bahwa pasti yang menggunakan teknologi modern lebih banyak menghasikan tangkapan ikan dan sementara bagi nelayan yang menggunakan teknologi yang sederhana pasti hasilnya tidak sebanyak nelayan yang menggunakan teknologi yang modern. Yang kemudian berdampak pada penghasilan nelayan yag berbeda cukup signifikan. Sehingga kesejateraan juga turut serta dalam hasil penggunaan Modernisasi Perikanan ini. Kesimpulannya diferensiasi sosial dalam masyarakat ini akan terjadi seiring dengan penggunaan teknologi yang lebih modern yang berdampak pada penghasilan, kehidupan masyarakatnya, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain.

Stratifikasi penduduk desa Tumbak Madani
Di Desa Tumbak Madani masih ada stratifikasi sosial, walaupun tidak terlihat secara langsung, tetapi tingkahlaku dan perlakuan-perlakuan terhadap orang tertentu bisa diketahui. Bahwa seperti penghormatan dan keseganan kepada Bachdlar sebagai hukum tua yang merupakan keturunan Dotu Saban I, dan juga orang seorang haji. Mereka dihormati, disegani dan diakui kedudukannya bukan dari ukuran kekayaan. Mereka sangat diperlukan pada saat peringatan desa atau pembuatan mesjid, dan juga pada saat ada perkelahian sesama keluarga atau anak muda, mereka sangat berpengaruh dalam peleraian atau pada saat pendamaian, dan juga merupakan pengontrol kehidupan dalam bermasya- rakat. Saat ini yang dianggap stratifi- kasinya lebih tinggi berjumlah 5 orang, semuanya haji.


Dampak stratifikasi dan diferensiasi sosial
Dampak yang ditimbulkan dari diferensiasi dan stratifikasi ini adalah terjadinya kelas-kelas sosial yang menimbulkan kesenjangan sosial diantara masyarakat desa Tumbak Madani yang semulanya kegiatan nelayan biasa saja setelah masuknya modernisasi perikanan mulai terjadi diferensiasi antar masyarakatnya yang disebabkan karena tidak semua nelayan masyarakat Tumbak Madani melaksanakan modernisasi perikanan yang dicanangkan pemerintah. Sehingga penghasilan pun juga ikut berubah yang memberi dampak pada kesejahteraan yang tidak merata didesa Tambak Madani ini. Sementara untuk stratifikasi, berdampak pada penghormatan pada salah seorang yang dituakan dalam desa tersebut yang dianggap mampu memberikan petuah demi kelangsungan hidup bermasyarak didesa Tumbak Madani. 


Kegiatan ekonomi masyarakat Tumbak Madani
Karena berada di wilayah pesisir pastilah warga desa Tumbak Madani ini bekerja sebagai nelayan yang mencari ikan kemudian dilelang dipasar ikan yang hasilnya nanti akan digunakan untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras minyak goreng dan sebagainya. Selain pekerjaan warganya sebagai nelayan potensi sumber daya laut didesa ini cukup bagus diantaranya adalah terumbu karangnya yang indah dan sangat berpotensi untuk dijadikan daerah pariwisata. Luas terumbu karang di Desa Tumbak Madani 25 hektar, dari garis pantai menuju lautan lepas panjangnya mencapai 200 m kemudian berbentuk landai hingga menuju Pulau Baling-Baling dan Pulau Ponteng. Perairan Desa Tumbak Madani juga mempunyai binatang laut pygmy seahorse yang biasa menjadi daya tarik di Provinsi Papua Barat Kabupaten Raja Ampat dan di Provinsi Sulawesi Utara, Selat Lembeh. Dengan berbagai potensi alam yang sangat banyak maka dari itu desa Tumbak Madani mempunyai kegiatan perekonomian yang bagus untuk kelangsungan hidup masyarakatnya.
Kedudukan sosial masyarakat Tumbak Madani

Secara geografis kawasan pesisir terletak pada wilayah transisi antara darat dan laut. Sebagian besar masyarakat yang hidup wilayah tersebut disebut sebagai masyarakat nelayan. Masyarakat nelayan didefinisikan sebagai kesatuan sosial kolektif masyarakat yang hidup dikawasan pesisir dengan mata pencahariannya menangkap ikan di laut (Kusnadi, 2009). Kelompok sosial atau kesatuan sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama oleh karena adanya hubungan di antara mereka. Hubungan tersebut menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran saling menolong (Haryanto dan Nugrohadi, 2011). Kelompok sosial yang ada di Desa Tumbak Madani yaitu pengajian ibu-ibu dan kelompok karya nelayan.

Bentuk interaksi sosial yang ada di Desa Tumbak Madani biasanya berupa usaha kerjasama antara individu atau kelompok demi mencapai tujuan bersama, seperti orang yang punya kapal biasanya kerjasama dengan tetangganya atau keluarganya dalam menangkap ikan. Atau juga kerjasama antara nelayan-nelayan terhadap pengumpul ikan. Adapun bentuk interaksi sosial persaingan terjadi dalam hal penangkapan ikan, kesuksesan keluarga, maupun usaha yang dijalankan oleh masing-masing keluarga. Sebagai contoh, jika satu keluarga mencoba usaha budidaya rumput laut, kemudian keluarga/tetangga yang tidak senang akan menghancurkan usaha tersebut, seperti merusak atau memotong tali pengait rumput laut. Ada juga usaha keramba, jika ada yang tidak menyukai keluarga tersebut, maka keramba itu akan dipotong atau dirusak pada saat malam hari. Hal seperti ini sudah biasa terjadi di Desa Tumbak Madani, tapi karena masyarakat merasa bahwa itu sangat memalukan, maka sekarang sudah jarang terjadi. Pertentangan di Tumbak Madani yang masih sering diributkan adalah batas laut dan batas desa dengan Tumbak Induk. Hal ini merupakan dampak dari pemekaran desa tahun 2010.

disadur dari http://imronbimanabrowi.blogspot.co.id

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.